Kamis, 11 September 2008

Hubungan Sains & Puasa

Makan dan minum wajib hukumnya untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari agar tetap hidup dan sehat. Namun, selain memasok zat gizi, makanan dan minuman juga membawa bahan toksik atau racun yang kemudian tertimbun di dalam tubuh selama bertahun-tahun. Akumulasi senyawa toksik tersebut merupakan bom waktu bagi meletusnya berbagai penyakit. Cepat lambatnya hal itu terjadi sangat berkaitan erat dengan sistem imuniti tubuh dan status gizi seseorang. Bahan toksik yang terbawa oleh makanan bisa bersumber dari lima hal, yaitu:

1. Secara alami terdapat di dalam makanan itu sendiri, seperti antitripsin pada kedel asam jengkolat pada jengkol, dan hemaglutinin pada kacang-kacangan mentah.

2. Akibat reaksi-reaksi kimia dari komponen pangan yang terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan.

3. Akibat penambahan senyawa tertentu selama proses pengolahan pangan, misalnya penggunaan bahan tambahan pangan (food additives) secara berlebih atau penggunaan senyawa kimia yang beracun.

4. Akibat migrasi senyawa beracun dari wadah/kemasan ke dalam makanan, misalnya monomer dari plastik atau logam besi dari koran bekas.

5. Akibat kontaminasi dari lingkungan yang tidak sehat, berupa kontaminasi senyawa kimia yang beracun atau mikroba penghasil racun.

Rabu, 10 September 2008

Profil Ponpes. Minhajut Tamyiz

A. Dasar Pemikiran
Ada 2 kecendrungan ekstrim yang memprihatinkan berkait dengan kerinduan orang untuk beragama.

pertama; kecendrungan untuk "memurnikan" Islam dari segala pengaruh modernitas dan lokalitas, karena yang modern dan lokal dianggap "musuh". Maka yang muncul adalah gerakan-gerakan yang keras, intoleran dan eksklusif
kedua; Kecendurungan munculnya agama baru dengan nabi bary dan dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan.
Generasi muda adalah sasaran dari kedua model gerakan tersebutm. menyiapkan generasi muda yang berkualitas dan cerdas, merupakan tanggung jawab kita semua. Memberikan mereka larut dalam kedua trend itu sama dengan mengubur wajah islam yang damai (rahmatan lil alamin), yeng menekankan cara-cara yang santun (wajadiluhum bi al-lati lil alamin, yang menekankan peneladanan (uswah hasanah). berangkat dari kegelisahan tersebut pondok pesantren "Minhajut Tamyiz" Timoho didirikan untuk berpartisifasi menyiapkan generasi yang berkualitas dan menawarkan model keislaman yang santun, damai, dan berakar pada budaya dan kearifan beragama. Hal inilah yang melatarbelakangi Bapak KH. Zulfi Fuad Tamyiz mendirikan Pondok Pesantren dengan nama "Minhjaut Tamyiz"